Something about Triangle

Aku, kamu, dia. KITA
Akan selalu seperti segitiga, yang kuat mengerucut di tiga sudut berbeda. Aku tak perlu bicara 6000 kata perhari seperti kebanyakan para hawa yang hobi membuka diri. Yang terjadi dengan kita adalah komunikasi antar hati, yang jika di hiperbolakan mungkin namanya “telepati”.
 
Ya, telepati. Jika boleh dibilang, kita sebenarnya tak perlu lagi alat komunikasi dari generasi paling canggih abad ini, karena kita sudah punya radar alami yang bisa saling mendeteksi sekalipun luka atau rasa kecewa. kita hampir selalu bisa saling menemukan tanpa perlu mencari, seberapapun jauhnnya, kita akan selalu terhubung lagi, selalu kembali mengambil posisi, lalu seolah-olah menjelma menjadi tiga pondasi maha sakti.
 
Kita adalah tiga sudut beda persepsi, yang entah kenapa bimasakti seperti tak pernah bosan menarik kita kembali, dengan misterinya yang beegitu magis, menyulap kita yang kemudian bersinergi, mencoba menerjemahkan rasi bintang lalu  ke mimpi.
 
Aku, kamu, dia. KITA
Selalu turut kata angin. Kadang kita melesat melebar, sesaat lupa bahwa kita saling terikat. Memanah tepat membelah ditengah angin, dan sesudahnya, dengan rasa bangga yang seadanya, kita akan kembali pulang, layaknya bumerang yang membelah waktu dengan cahaya terang.
Duduk tertawa-tawa di tempat-tempat yang sudah kita sepakati sejak pertama kali. Lagi-lagi lewat telepati. Atau lewat isyarat alam yang kelewat tahu tentang rahasia segitiga ini.
Tak ada keluh yang sanggup berlama-lama, tak ada airmata yang betah membungkam rindu, yang ada hanya isyarat tentang platonisnya cinta. 
 
Aku tak pernah benar-benar tau rasanya sepi, begitu juga dengan kalian. 
Kita selalu tau, segitiga selalu jadi rumah terbaik, untuk kembali pulang dan rebah melepas lelah.
 
-240412- 02:31 PM  (pendopo dpn masjid alumni kampus)

*Diambil dari notes facebook Irma Latika Noviani, seorang teman baik :)

Notes

  1. irmalatika reblogged this from diananauli
  2. diananauli reblogged this from primaranisa
  3. primaranisa posted this